Hakikat dan Fungsi Bahasa

HAKIKAT DAN FUNGSI BAHASA

Oleh:
K H A I R I L

  1. A.    Hakikat Bahasa

Tarigan (1990:2-3) mengemukakan adanya delapan  prinsip dasar hakikat bahasa, yaitu (1) bahasa adalah suatu sistem, (2) bahasa adalah vokal, (3) bahasa tersusun daripada lambang-lambang arbitrari, (4) setiap bahasa bersifat unik, (5) bahasa dibangun daripada kebiasaan-kebiasaan, (6) bahasa ialah alat komunikasi, (7) bahasa berhubungan erat dengan tempatnya berada, dan (8) bahasa itu berubah-ubah. Pendapat ini tidak berbeda dengan yang dikatakan Brown juga dalam Tarigan (1990:2-3) yang apabila dilihat banyak sekali persamaan gagasan mengenai bahasa itu walaupun dengan kata-kata yang sedikit berbeda. Berikut ini merupakan hakikat bahasa menurut pendapat Brown yang juga dikutip dari Tarigan (1990:4), iaitu (1) bahasa adalah suatu sistem yang sistematik, barang kali juga untuk sistem generatif, (2) bahasa adalah seperangkat lambanglambang arbitrari, (3) lambang-lambang tersebut, terutama sekali bersifat vokal tetapi mungkin juga bersifat visual, (4) lambang-lambang itu mengandung makna konvensional, (5) bahasa dipergunakan sebagai alat komunikasi, (6) bahasa beroperasi dalam suatu masyarakat bahasa atau budaya, (7) bahasa pada hakikatnya bersifat kemanusiaan, walaupun mungkin tidak terbatas pada manusia sahaja, (8) bahasa diperoleh semua orang/bangsa dengan cara yang hampir/banyak persamaan dan (9) bahasa dan belajar bahasamempunyai ciri kesejagatan. Bahasa dapat dilihat daripada dua aspek, iaitu hakikat dan fungsinya (Nababan, 1991:46). Hakikat bahasa mengacu pada pembicaraan sistem/struktur atau Langue, sedangkan fungsi bahasa menyangkut pula pembicaraan proses atau parole (Saussure, 1993, Kleden, 1997:34). Hubungan kedekatan yang tidak dapat dipisahkan antara sistem dengan proses ini dilukiskan oleh Kleden dengan kalimat: ’Tanpa proses sebuah struktur (sistem) akan mati, tanpa struktur (sistem) proses akan kacau’. Jadi, antara hakikat bahasa dan fungsi bahasa itu sendiri merupakan suatu konsep dua fungsi bahasa

 

B. Fungsi Bahasa

Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari.

Komunikasi lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak teliti berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut untuk berbahasa’ bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud tertentu, kita cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau mencampurkan bahasa standar dengan bahasa nonstandar atau bahkan, mencampurkan bahasa atau istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa bersifat sangat luwes, sangat manipulatif. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Lihat saja, bagaimana pandainya orang-orang berpolitik melalui bahasa. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Agar dapat memanipulasi bahasa, kita harus mengetahui fungsi-fungsi bahasa.

Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).

Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi.  Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu (Sunaryo, 1993, 1995).

Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).

Hasil pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa yang digunakan. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan buah pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat modern. Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat modern.

  1. 1.       Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri

Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam perkembangannya, seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.

Sebagai contoh lainnya, tulisan kita dalam sebuah buku,  merupakan hasil ekspresi diri kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. Akan tetapi, pada saat kita menulis surat kepada orang lain, kita mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. Kita memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita.

Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.

Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain :

-        agar menarik perhatian orang  lain terhadap kita,

-         keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi

Pada taraf  permulaan, bahasa pada anak-anak sebagian berkembang  sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri (Gorys Keraf, 1997 :4).

  1. 2.      Bahasa sebagai Alat Komunikasi

Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita.

Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4).

Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita.

Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu, seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya, kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata griya, misalnya, lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma. Dengan kata lain, kata besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas, atau nuansa tradisional.

Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.

 

  1. 3.      Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial

Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat  hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).

Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.

Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda? Bagi orang asing, pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.

 

  1. 4.       Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial

Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.

Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.

Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.

Menurut Tarigan (1987), fungsi bahasa adalah sebagai sarana komunikasi. Dalam arti luas, komunikasi adalah proses transaksi dinamis yang memandatkan komunikator untuk (to code) berperilaku, verbal maupun nonverbal.

 

 MENGENAL PRAGMATIK

A. Pengertian Pragmatik

Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi

 

 

B. Konteks

Konteks adalah latar belakang pengetahuan yang diperkirakan dimiliki dan disetujui bersama oleh pembicara atau penulis dan penyimak atau pembaca serta yang menunjang interpretasi penyimak atau pembaca terhadap apa yang dimaksud pembaca atau penulis dengan suatu ucapan tertentu (Tarigan 1987:35).

Dalam berkomunikasi masyarakat tutur tidak terlepas dari situasi tuturan. Untuk itu, Firth (1935) mempunyai pandangan tentang konteks situasi. Adapun pokok-pokok pandangannya adalah (1) pelibat atau partisipan dalam situasi, (2) tindakan pelibat, (3) ciri-ciri situasi lainnya yang relevan, dan (4) dampak-dampak tindak tutur (Halliday dalam Tou 1992:11).

Pelibat merupakan faktor penentu di dalam berbicara. Pelibat dalam situasi adalah para pelaku bahasa, antara lain masyarakat, pendidik, ahli bahasa, serta peneliti bahasa. Di dalam menuturkan suatu tuturan pelibat berarti melakukan suatu tuturan yang dimaksud dengan tindakan pelibat. Adapun yang dimaksud dengan tindakan pelibat yaitu hal-hal yang dilakukan oleh penutur, meliputi tindak tutur atau verbal action maupun tindakan yang tidak berupa tuturan atau non verbal action. Selain hal tersebut, ciri-ciri situasi lainnya yang relevan merupakan aspek situasi tutur yang perlu diperhatikan di dalam berkomunikasi. Adapun yang dimaksud dengan ciri-ciri situasi yang relevan adalah kejadian dan benda-benda sekitar yang sepanjang hal itu mempunyai sangkut paut tertentu dengan hal yang sedang berlangsung. Di dalam melakukan suatu tuturan, penutur tidak boleh mengabaikan dampak-dampak dari tindak tutur karena dampak itu timbul disebabkan oleh tuturan para penutur. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa suatu bahasa yang dipakai oleh seorang penutur dapat ditangkap maksudnya oleh lawan tutur sesuai dengan konteks situasi yang melingkupi peristiwa tutur.

Menurut Tarigan (1987:33), bentuk dan makna bahasa harus disesuaikan dengan konteks dan situasi atau keadaan. Situasi dan konteks yang berbeda dapat menyebabkan suatu penafsiran yang berbeda pula dalam bahasa. Keanekaragaman bahasa dapat juga ditentukan oleh faktor yang berakar dari konteks dan situasi separti : letak gegrafis, situasi berbahasa, situasi sosial, dan kurun waktu. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa situasi dan konteks yang berbeda dapat menyebabkan bahasa yang beragam karena dengan situasi atau tempat yang berbeda dapat menyebabkan makna tuturan menjadi berbeda. Berbicara merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan setiap hari bagi orang yang mempunyai alat bicara normal. Dengan berbicara seseorang dapat mereaksi pembicaraan dengan orang lain melalui tuturan maupun berupa tindakan yang lain. Adapun syarat utama antara pembicara dengan pendengar adalah saling mengerti di antara keduanya.

Berhubungan dengan bermacam-macam maksud yang dikomunikasikan oleh penutur dalam suatu tuturan, Leech (1983) mengemukakan sejumlah aspek yang senantiasa harus dipertimbangkan dalam rangka studi pragmatik. Adapun aspek-aspek situasi tuturan itu meliputi : (1) penutur atau penulis dan lawan tutur atau penyimak, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal (Wijaya:27-31; Rustono 1999:31).

Aspek situasi tutur yang pertama adalah penutur atau penulis dan lawan tutur atau penyimak. Penutur adalah orang yang melakukan tuturan sedangkan lawan tutur adalah orang yang diajak bertutur. Dalam situasi komunikasi harus ada pihak penutur atau penulis dan pihak lawan tutur atau pembaca. Keterangan ini mengandung implikasi bahwa pragmatik tidak hanya terbatas pada bahasa lisan saja, tetapi juga mencakup bahasa tulisan. Adapun aspek-aspek yang berkaitan dengan penutur dan lawan tutur ini adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan keakraban (Rustono 1999:27-29 ; Wijaya 1996:11).

Aspek situasi tutur yang kedua adalah konteks tuturan. Konteks tuturan meliputi konteks fisik yang biasa disebut kotek (cotex) dan konteks sosial yang disebut konteks (conteks). Didalam pragmatik, konteks berarti semua latar belakang pengetahuan yang dialami oleh penutur dan lawan tutur. Konteks ini berguna untuk membantu lawan tutur di dalam menafsirkan maksud yang ingin dinyatakan oleh penutur (Rustono 1999:2). Aspek situasi tutur yang ketiga yaitu tujuan tuturan adalah apa yang ingin dicapai oleh penutur yang melakukan tindakan bertutur (Rustono 1999:29).

Bentuk-bentuk tuturan yang diutamakan oleh penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tertentu, yaitu antara kedua belah pihak (penutur dan lawan tutur) terlibat dalam satu kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu. Dalam hal ini berarti tidak mungkin ada sebuah tuturan yang tidak mengungkapkan suatu tujuan tertentu.

Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas merupakan aspek situasi tutur yang keempat. Tuturan merupakan bentuk aktifitas yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Menuturkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan atau act (Purwa 1990:19). Dalam hal itu yang bertindak melakukan tindakan adalah alat ucap.

Aspek situasi tutur yang lain adalah tuturan sebagai produk tindak verbal. Tindak verbal adalah tindak mengekspresikan kata-kata atau bahasa (Rustono 1999:30). Tuturan yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal. Hal itu dapat dilihat pada tuturan “Apakah rambutmu tidak terlalu panjang”. Tuturan tersebut dapat ditafsirkan sebagai pertanyaan atau sebagai perintah apa bila tuturan tersebut diucapkan oleh seorang ibu terhadap anaknya. Dengan mengacu pendapat Leech (1983), Tarigan (1987:34-37) mengemukakan lima aspek situasi tuturan, yaitu pembicara atau penulis dan penyimak atau pembaca, konteks tuturan, tujuan tuturan, tindak lokusi, dan ucapan sebagai produk tindak verbal. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa selain unsur waktu dan tempat, unsur yang paling penting dalam suatu tuturan adalah aspek-aspek tuturan itu sendiri. Manfaat dari aspekaspek situasi tuturan adalah memudahkan dalam menentukan hal-hal yang tergolong dalam bidang kajian pragmatik.

C. Aspek-aspek Tutur

Leech (1993:19) membagi aspek situasi tutur ataslimabagian, yaitu: (1) penutur dan lawan tutur; (2) konteks tuturan; (3) tindak tutur sebagai bentuk tindakan; (4) tujuan tuturan; dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal.

1.    Penutur dan Lawan Tutur

Penutur adalah orang yang bertutur, yaitu orang yang menyatakan fungsi pragmatis tertentu di dalam peristiwa komunikasi. Sementara itu, mitra tutur adalah orang yang menjadi sasaran sekaligus kawan penutur di dalam pentuturan. Di dalam peristiwa tutur peran penutur dan mitra tutur dilakukan secara silih berganti, yang semula berperan penutur pada tahap  tutur berikutnya dapat menjadi mitra tutur, demikian sebaliknya. Aspek-aspek yang terkait dengan komponen penutur dan mitra tutur antara lain usia, latar belakang sosial, ekonomi, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat keakraban, dan sebagainya.

2.    Konteks Tuturan

Istilah konteks didefinisikan oleh Mey (dalam Nadar, 2009:3) sebagai situasi lingkungan dalam arti luas yang memungkinkan peserta pertuturan untuk dapat berinteraksi dan yang membuat ujaran mereka dapat dipahami. Di dalam tata bahasa, konteks tuturan mencakup semua aspek fisik atau latar sosial yang relevan dengan tuturan yang diekspresikan. Konteks yang bersifat fisik, yaitu fisik tuturan dengan tuturan lain, biasa disebut ko-teks. Sementara itu, konteks latar sosial lazim dinamakan konteks. Di dalam pragmatik konteks itu berarti semua latar belakang pengetahuan yang dipahami bersama oleh penutur dan mitra tuturnya. Konteks ini berperan membantu mitra tutur di dalam menafsirkan maksud yang ingin dinyatakan oleh penutur.

3.    Tindak Tutur sebagai Bentuk Tindakan

Tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas adalah bahwa tindak tutur itu merupakan tindakan juga. Jika tata bahasa menangani unsur-unsur kebahasaan yang abstrak, seperti kalimat dalam studi sintaksis, proposisi dalam studi semantik, dan sebagainya, pragmatik berhubungan tindak verbal yang lebih konkret yang terjadi dalam situasi tertentu. Tindak tutur sebagai suatu tindakan tidak ubahnya sebagai tindakan mencubit. Hanya saja, bagian tubuh yang berperan berbeda. Pada tindakan mencubit tanganlah yang berperan, sedangkan pada tindakan bertutur alat ucaplah yang berperan.

4.      Tujuan Tuturan

Tujuan tuturan adalah apa yang ingin dicapai penutur dengan melakukan tindakan bertutur. Komponen ini menjadikan hal yang melatarbelakangi tuturan karena semua tuturan memiliki suatu tujuan. Dalam hal ini bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan maksud yang sama. Atau sebaliknya, berbagai macam maksud dapat diutarakan dengan tuturan yang sama. Bentuk-bentuk tuturan Pagi, selamat pagi, dan met pagi dapat digunakan untuk menyatakan maksud yang sama, yakni menyapa lawan tutur yang ditemui pada pagi hari. Selain itu, Selamat pagi dengan berbagai variasinya bila diucapkan dengan nada tertentu, dan situasi yang berbeda-beda dapat juga digunakan untuk mengejek teman atau kolega yang terlambat datang ke pertemuan, atau siswa yang terlambat masuk kelas, dan sebagainya.

5.      Tuturan sebagai Produk Tindak Verbal

Tuturan itu merupakan hasil suatu tindakan. Tindakan manusia itu dibedakan menjadi dua, yaitu tindakan verbal dan tindakan nonverbal. Berbicara atau bertutur itu adalah tindakan verbal. Karena tercipta melalui tindakan verbal, tuturan itu merupakan produk tindak verbal. Tindak verbal adalah tindak mengekpresikan kata-kata atau bahasa.

D. Tindak Tutur

Defenisi Tindak Tutur Menurut Muhammad Rohmadi, (2004) teori tindak tutur pertama kali dikemukakan oleh Austin (1956), seorang guru besar di Universitas Harvard. Teori yang berwujud hasil kuliah itu kemudian dibukukan oleh J.O.Urmson (1965) dengan judul How to do Things with words?. Akan tetapi teori itu baru berkembang secara mantap setelah Searle (1969) menerbitkan buku yang berjudul Speech Acts : An Essay in the Philosophy of language menurut Searle dalam semua komunikasi linguistik terdapat tindak tutur. Ia berpendapat bahwa komunikasi bukan sekadar lambang, kata atau kalimat, tetapi akan lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari lambang, kata atau kalimat yang berwujud perilaku tindak tu­tur (fire performance of speech acts. Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari aspek pemakaian aktualnya. Leech (1983:5-6) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada siapa, di mana, bilamana, bagaimana.

Berkenaan dengan tuturan, Austin membedakan tiga jenis tindakan yakni:

(1) tindak lokusi ( lokuitionary act )
(2) tindak ilokusi ( ilokuitionary act )
(3) tindak perlokusi ( perlokuitionary act )

(1) Tindak lokusi

Tindak lokusi adalah tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu. Lokusi semata-mata merupakan tindak tutur atau tindak bertutur, yaitu tindak mengucapkan suatu dengan kata dan makna kalimat sesuai dengan makna itu (di dalam kamus) dan makna kalimat itu menurut kaidah sintasisnya (Gunarwan 1992:9). Di dalam tindak lokusi tidak mempermasalahkan maksud fungsi ujaran (Rustono 1999:35).

(2) Tindak ilokusi

Tindak ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu. Tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya ujaran (Rustono 1999:35). Tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang digunakan untuk menginformasikan sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu. Tindak ilokusi mempertimbangkan siapa penutur dan siapa petutur, kapan, dimana tindak tutur itu terjadi, dan sebagainya (Wijaya 1996:19). Tindak ilokusi tidak mudah diidentifikasi karena tindak ilokusi berkaitan dengan siapa bertutur pada siapa dan kapan atau dimana tindak tutur itu dilakukan, dan sebagainya. Untuk memudahkan identifikasi ada beberapa verbal yang menandai tindak tutur ilokusi. Beberapa verba itu antara lain : melaporkan, mengumumkan, bertanya, menyarankan, berterima kasih, mengusulkan, mengakui, mengucapkan selamat, berjanji, mendesak, dan sebagainya.

(3) Tindak perlokusi

Tindak perlokusi adalah ujaran yang diucapkan seorang penutur yang mempunyai efek atau daya pengaruh (Suyono 1990:8). Efek atau daya ujaran ini dapat ditimbulkan oleh penutur secara sengaja, dapat pula secara tidak sengaja.
Tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk mengetahui maksud lawan tutur inilah yang merupakan tindak perlokusi. Ada beberapa verbal yang menandai tindak perlokusi. Beberapa verbal itu antara lain membujuk, menipu, mendorong, membuat jengkel, menakut-nakuti, menyenangkan, melegakan, mempermalukan, dan menarik perhatian (Leech 1993:323). Dikatakan oleh Searle dalam Gunarwan (1994:84) bahwa sehubungan dengan pengertian tindak tutur atau tindak ujar, dapat dikategorikan menjadi lima jenis yaitu : representatif, direktif, eksresif, komisif, dan deklarasi.

(1)     Representatif

Tindak tutur representatif disebut juga tindak tutur asertif, yakni tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran apa yang diujarkannya (Rustono 1999:38). Yang temasuk dalam jenis tindak tutur representatif ini seperti tuturan menyarankan, melaporkan, menunjukkan, membanggakan, mengeluh, menuntut,menjelaskan, menyatakan, mengemukakan, dan menyebabkan (Tarigan 1990:47).

Tuturan berikut merupakan tindakan representatif.
(1). “Pemain itu tidak berhasil melepaskan diri dari tekanan lawan.”

Tuturan di atas termasuk tuturan representatif. Alasannnya adalah tuturan itu mengikat penuturnya akan kebenaran isi tuturan itu. Penutur bertanggungjawab bahwa memang benar pemain itu tidak dapat berhasil di dalam meraih angka, bahkan sering melakukan kesalahan sendiri.

(2)      Direktif

Tindak tutur direktif kadang-kadang disebut juga tindak tutur impisiotif yaitu tindak tutur yang dilakukan penuturnya dengan maksud agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan didalam ujaran itu (Gunarwan 1992:11). Tindak tutur direktif dimaksudkan untuk menimbulkan beberapa efek melalui tindakan sang penyimak (Tarigan 1990:47).

Yang termasuk dalam jenis tindak tutur direktif ini adalah tuturan; memaksa, mengajak, meminta, menyuruh, menagih , mendesak, memohon, menyarankan, memerintah, menmberi aba-aba, menentang (Rustono 1999:38).

(2).  Tindak Tutur Direktif.

“Ambil buku itu.”

Tuturan di atas merupakan tuturan direktif. Hal itu terjadi karena memang tuturan itu dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan mengambil buku baginya. Indikator bahwa tuturan itu direktif adanya suatu tindakan yang harus dilakukan oleh mitra tutur setelah mendengar tuturan itu.

(3) Ekspresif

Tindak komisif yaitu tindak tutur yang mendorong penutur melakukan sesuatu seperti bersumpah berjanji (Suyono 1996:5). Komisif melibatkan pembicara pada beberapa tindakan yang akan datang seperti menjanjikan, bersumpah, menawarkan, dan memanjatkan doa (Tarigan 1990:47). Tindak tutur berikut adalah tindak tutur ekspresif.

(3). “Sudah belajar keras, hasilnya tetap jelek ya, Bu”

Tuturan di atas termasuk tindak tutur ekspresif mengeluh. Termasuk tindak tutur ekspresif karena tuturan itu dapat diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkannya, yaitu usaha belajar keras yang tetap tidak mengubah hasil. Isi tuturan itu berupa keluhan karena itu tindakan yang memproduksinya termasuk tindak ekspresif mengeluh.

(4) Komisif

Tindak komisif merupakan tindak tutur yang berfungsi mendorong pembicara melakukan sesuatu seperti menyatakan kesanggupan. Jenis tindak komisif ini jarang sekali digunakan karena tindak komisif merupakan suatu tindakan janji yang harus ditepati. Berikut ini merupakan penggalan dari tindak tutur komisif.

(4). “Saya bersumpah bahwa saya akan melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya.”
Tuturan di atas adalah tindak tutur komisif berjanji. Alasannya adalah tuturan itu mengikat penuturnya untuk melaksanakan tugasdengan sebaikbaiknya. Ikatan untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya dinyatakan penuturnya yang membawa konsekuensi bagi dirinya untuk memenuhinya. Karena berisi berjanji yang secara eksplisi dinyatakan, tindak tutur itu termasuk tindak tutur komisif berjanji.

(5) Deklarasi

Tindak deklarasi adalah tindak tutur yang dilakukan si penutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status, keadaan dsb.) yang baru (Gunarwan 1992: 12). Tuturan-tuturan dengan maksud mengesahkan, memutuskan, membatalkan, melarang, mengijinkan, mengangkat, menggolongkan, mengampuni dan memaafkan termasuk kedalam tindak tutur deklaratif (Gunarwan 1992:12).

(6). tindak tutur direktif.

“ Saya tidak jadi datang ke rumahmu besok.”
Tuturan di atas adalah tindak tutur deklarasi membatalkan. Alasannya adalah tuturan itu untuk tidak memenuhi janjinya bagi penuturnya. Karena berisi membatalkan yang secara eksplisit dinyatakan.

E. Tindak Tutur langsung dan tidak langsung

Wijana (1990:30) membagi tindak tutur menjadi dua macam; yaitu tindak tutur langsung dan tindak tutur tindak langsung. Dikatakan sebagai tindak tutur langsung (direct speech) karena informasinya dinyatakan secara langsung, berupa perintah, permohonan, ajakan dan larangan. Misalnya “Nyalakan lampu”, “Jangan dimakan kue itu sudah tidak layak!”, “Mari ikut saya”, dan sebagainya.  Tindak tutur tidak langsung dapat berupa kalimat berita atau kalimat tanya yang mengandung makna perintah. Misalnya tuturan “Radionya kurang jelas”.  Tuturan pada contoh di atas, mengandung arti yang sebenarnya, yakni penutur memang tidak dapat mendengar radio yang dibunyikan dengan volume yang sangat kecil. Oleh karena itu, tuturan tersebut dapat ditafsirkan sebagai permintaan agar mitra tutur membesarkan volume agar suaranya dapat didengar dengan jelas. Akan tetapi apabila disampaikan oleh seseorang yang merasa terganggu konsentrasi belajarnya agar lawan bicara mematikan radio yang terlalu keras di dengarnya, maka tuturan ini memiliki makna yang lain sama sekali ditafsirkan sebagai perintah untuk mematikan/ mengecilkan volume radio agar suara radio tidak mengganggu konsentrasi belajarnya.  Tuturan “Dimana sapunya” dalam bentuk kalimat tanya jawab di atas, apabila disampaikan oleh orang tua kepada anaknya, sebenarnya memiliki maksud dan tujuan untuk memerintah. Dengan demikian, pertanyaan tersebut tidak semata-mata menanyakan informasi melainkan perintah yang dinyatakan secara tidak langsung.  Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa tindak tutur langsung merupakan ungkapan verbal yang berisi ajakan, perintah, permintaan, permohonan dan larangan yang dinyatakan secara langsung,

Tindak tutur tidak  langsung (indirect speech act) ialah tindak tutur untuk memerintah seseorang melakukan sesuatu secara tidak langsung. Tindakan ini dilakukan dengan memanfaatkan kalimat berita atau kalimat tanya agar orang yang diperintah tidak merasa dirinya diperintah. Misalnya seorang ibu menyuruh anaknya mengambil sapu, diungkapkan dengan Upik, sapunya dimana?” Kalimat tersebut selain untuk bertanya sekaligus memerintah anaknya untuk  sapu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Gunarwan, Asim. 1994. “Kesantunan Negatif di Kalangan Dwibahasawan Indonesia-Jawa di Jakarta” dalam PELBA 7. Jakarta: Unika Atmajaya Press.
Leech, Geoffrey.1983. Principles of Pragmatics. London: Longman
Rohmadi, Muhammad. 2004. Pragmatik Teori dan Analisis. Yogyakarta: Lingkar                                                 Media

Tarigan, Henry Guntur. 1990. Kedudukan dan fungsi bahas. Bandung: Angkasa
Wijana, Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset

About these ads

Posted on November 12, 2011, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: