PENGAJARAN SASTRA DAN ”KETERTEKANAN” GURU

Mengubah Persepsi Guru “Tidak Profesional dan Tidak Menguasai Materi

“Berdasarkan pada wawancara dan observasi terhadap beberapa orang guru Bahasa Indonesia,  bahwa penyebab utama belum tercapainya tujuan pembelajaran menulis cerpen … adalah masalah rendahnya kompetensi guru dalam menulis cerpen dan kompetensi guru dalam membimbing siswa menulis cerpen. Sebagian besar guru bahasa Indonesia baik, tingkat SMP/MTs maupun SMA/MA memliki kompetensi yang rendah dalam menulis cerpen. Mereka tidak dapat menulis cerpen dengan kualitas yang relatif baik, bahkan sebagian dari mereka mengaku belum pernah menulis cerpen ….
Kompetensi para guru dalam menulis cerpen yang rendah itu ternyata berakibat pada rendahnya kompetensi mereka dalam membimbing siswa menulis cerpen. Sebagian besar dari mereka tidak memiliki ketrampilan membimbing para siswanya dalam menulis cerpen. Mereka mengaku merasa bingung pada saat harus membimbing siswa dalam menulis cerpen karena mereka tidak memiliki pengalaman langsung menulis cerpen. Sebagai akibatnya,para siswa tidak mendapat bimbingan yang benar dan tepat dalam proses belajar menulis cerpen sehingga mereka tidak dapat menghasilkan cerpen, apalagi cerpen yang berkualitas.”
Kutipan panjang dari tulisan Prof. Dr. Agus Nuryatin, M.Hum yang berjudul “Pembelajaran Menulis Karya Satra Cerita Pendek Memberi Bekal Life Skill Kepada Siswa”, sengaja saya sajikan di awal tulisan ini sebagai background untuk beberapa pertanyaan yang muncul di benak saya : (1) Benarkah kemampuan guru dalam menulis cerita pendek berpengaruh bagi keberhasilan siswa dalam menulis cerpen? (2) Benarkah kemampuan guru menulis cerita pendek seperti S. Prasetyo Utomo, M. Soim Anwar, atau guru-guru pemenang Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) terbukti mendongkrak secara kuantitatif jumlah siswa yang mampu menulis cerita pendek? (3) Apabila terbukti benar, sudah berapa puluh bahkan beratus-ratus siswa yang dibimbing S. Prasetyo Utomo atau M. Soim Anwar yang mampu menulis cerita pendek? (4) Apakah cerita pendek karya siswa yang dimuat di majalah sastra Horison adalah hasil pembelajaran menulis cerita pendek dari seorang guru yang juga seorang cerpenis?
Kalau jawabannya adalah “Ya”, sungguh tragis pembelajaran sastra di sekolah yang hanya diajarakan oleh seorang guru yang bukan sastrawan! Saya ragu untuk meyakini bahwa kompetensi guru bahasa Indonesia yang mampu menulis cerita pendek, termasuk juga menulis puisi, bahkan drama, dipastikan akan mampu mencapai tujuan pembelajaran menulis karya sastra, sebagaimana yang diyakini Agus Nuryatin. Dalam Standar Kompetensi Guru Sekolah Menegah Atas bidang studi Bahasa Indonesia yang diterbitkan Dirjen Pendidikan dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan, Tahun 2004, menyebutkan tiga kompetensi guru dalam pembelajaran sastra. Pertama, melaksanakan pembelajaran mengapresiasi karya sastra. Kedua, menggunakan berbagai metode dan bahan ajar pembelajaran sastra. Ketiga, melaksanakan penilaian pembelajaran sastra. Dalam indikator untuk ketiga kompetensi tersebut, tidak ditemukan adanya kemampuan guru bahasa Indonesia dalam menulis karya sastra.
Wacana bahwa guru bahasa Indonesia harus memiliki kemampuan menulis karya sastra sehingga berdampak pada kualitas pembelajaran sastra, dalam tataran tertentu memunculkan “ketertekanan” guru. Suatu situasi di mana guru dikhawatirkan akan terbebani oleh tuntutan kompetensi yang sebenarnya tidak mudah untuk dilakukan. Apabila kemampuan guru menulis karya sastra dipandang sebagai tuntutan yang mutlak harus dimiliki guru, maka tidak menutup kemungkinan standar kompetensi kemampuan siswa menulis karya sastra tidak akan tercapai sebagaimana yang dikehendaki KTSP : “Siswa mampu menulis karangan sederhana untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk cerita atau puisi”.

Seakan melengkapi “ketertekanan” guru dalam pembelajaran sastra, dosen FKIP UMS, Dr Ali Imron Al Ma’ruf, M.Hum mengungkapkan bahwa persoalan utama dalam pembelajaran sastra adalah ketidakmampuan dan kekurangsiapan guru dalam memahami, menafsirkan, dan menilai karya sastra yang akan diajarkan kepada siswa. Dari hasil penelitiannya terungkap, ada sekitar 61.96 persen guru SD, SMP, SMA dan SMK tidak menguasai materi yang diajarkan. “Pembelajaran sastra hanya sisipan sedangkan materi utamanya adalah bahasa Indonesia”, Tandasnya. (http://harianjoglosemar.com).
Temuan Agus Nuryatin dan Ali Imron Al Ma’ruf memunculkan semacam penolakan diri untuk tidak meyakini bahwa guru adalah biang keladi dari seluruh kegagalan pembelajaran sastra di sekolah; bahwa guru bukanlah aktor utama penyebab rendahnya apresiasi siswa. Keyakinan ini kemudian ternyata tidak memiliki dasar yang kokoh karena adanya kenyataan faktual yang sulit saya bantah : “secara teknis guru bahasa umumnya tidak otomatis juga mampu menjadi guru sastra . Terlebih bila pembelajaran sastra membutuhkan bakat, maka sedikit saja yang memenuhi kualifikasi guru sastra “. Lantas, masih adakah upaya untuk mewujudkan amanat dari Standar Isi mata pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2006 (KTSP) yang menyebutkan bahwa mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan antara lain agar peserta didik memiliki kemampuan menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, juga menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia ?
Pembelajaran Sastra dari Nol
Meskipun bukan satu-satunya penyebab kegagalan pembelajaran sastra, temuan Agus Nuryatin dan Ali Imron Al Ma’ruf dapat menjadi titik balik bagi guru untuk melakukan pembelajaran sastra dari nol. Dimulai dari mengubah prinsip tugas guru dari mengajarkan sastra kepada siswa menjadi membelajarkan siswa bersastra. Hal ini mengandung maksud, guru mengupayakan agar siswa secara langsung menikmati karya sastra. Kemudian guru harus memahami benar prinsip-prinsip pembelajaran sastra.
Rizanur Gani, sebagaimana dikutip Musa Ismail, menguraikan lima prinsip pembelajaran sastra:
1. Wacana sastra dipilih berdasarkan potensinya yang mampu menggugah perhatian siswa. Dalam hal ini pemilihan bahan pembelajaran sastra disesuaikan dengan kemampuan dan kematangan siswa, serta relevan dengan kebutuhan pengalaman sastra yang ingin dikembangkan.
2. Guru mendorong siswa untuk melakukan respons atas bahan pembelajaran melalui proses analisis. Dalam proses ini, guru membantu siswa membedakan apa yang dibawanya ke dalam wacana sastra dan apa yang ditemukannya dalam wacana tersebut.
3. Guru berusaha membina iklim belajar yang koorperatif. Diskusi terbina dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk mempertajam wawasannya, mengubah sikapnya, dan memperluas perspektif kerjanya.
4. Segala respon sifatnya relatif, tidak ada yang mutlak karena kebermaknaan cipta sastra dibuat siswa secara pribadi.
5. Hendaknya respon yang diberikan bervariasi. Kegunaan respon sangat memperkaya khasanah wawasan dan gagasan masing-masing siswa.
Gurulah awal dari upaya untuk mencapai pembelajaran sastra yang berkualitas. Untuk itu diperlukan guru yang mencintai dan menguasai sastra, memahami hakikat dan tujuan pembelajaran sastra, memiliki pola pikir kritis dan analitis, serta menguasai metode pembelajaran sastra. Di samping itu pula diperlukan guru yang memiliki pandangan dan wawsan yang luas dengan mengetahui ilmu-ilmu pendudkung sastra, seperti sosiologi, psikologi, antropologi, dan lain-lain. Semua itu merupakan ciri guru sastra yang ideal. Guru yang mampu membuahkan pengalaman belajar untuk menjadikan siswa memahami, menikmati, menghayati, dan memiliki sikap positif terhadap karya sastra.
Dalam KTSP tidak ada ketentuan buku pelajaran yang dipakai. Di samping itu guru dapat mengurangi dan menambah isi buku pelajaran yang digunakan. Namun guru harus mandiri dan kreatif. Guru juga harus menyeleksi dan memanfaatkan bahan pembelajaran sastra dari berbagai sumber. Bahan pembelajaran itu dapat digali bukan hanya dari sastra nasional maupun sastra internasional tetapi juga sastra lokal, seperti sastra Tegal atau Tegalan agar siswa nantinya mempunyai wawasan yang luas dalam memahami dan menanggapi berbagai ragam kesusastraan.
Terkait dengan peran penting guru, ada sebuah filosofi bermakna yang layak untuk kita renungkan : “Apabila seorang dokter salah mendiagnosis, hanya seorang pasien yang mati; Apabila seorang hakim salah mengadili, hanya seorang narapidana yang terzalimi; Apabila seorang guru salah memberi pendidikan, peradaban manusia yang terancam”.
Pembelajaran Sastra Berbasis Respon Pembaca
Pada beberapa dekade terakhir respons pembaca menjadi teknik pembelajaran yang mapan di Amerika.  Pembelajaran yang dilakukan bersifat dinamis dengan cara memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengkonstruk sendiri pengetahuan yang dia dapatkan. Dalam teori respon pembaca (lebih dikenal juga dengan istilah resepsi sastra) peranan pembaca signifikan dan dominan dalam penerapannya. Pembacalah yang menikmati, menilai, dan memanfaatkan teks sastra.
Dalam gagasan Wolgang Iser, teks sastra memiliki “ruang kosong” yang disediakan oleh penulis di mana pembaca secara kreatif dan secara bebas dapat mengisinya. Sebagaimana diketahui teks sastra bersifat multitafsir,karenanya “ruang kosong” itu akan menjadi pusat pembuktian kualitas interpretasi pembaca. Semakin banyak ruang kosong, semakin berkualitas pula karya sastra, karena membuka banyak kesempatan bagi pembaca untuk menginterpretasi. Dengan dasar pemikiran bahwa teks sastra memiliki ruang kosong untuk interpretasi pembaca, maka seorang guru dapat mengaplikasikan hal tersebut dalam pembelajaran sastra.
Dalam menerapkan teori respon pembaca, guru dapat bertolak dari prinsip membaca teks sastra sebagaimana di kemukakan Beach dan Marshall (Widodo dan Saraswati, 2009):
1. Menyertakan. Pembaca (siswa) selalu menyertakan perasaannya pada saat dia menjelaskan reaksi emosionalnya terhadap teks sastra.
2. Merinci (describing) atau memecahkan masalah. Pembaca (siswa) merinci teks sastra pada saat mereka menyatakan kembali atau mereproduksi informasi yang disajikan kata demi kata dalam teks itu.
3. Memahami (conceicing). Ketika pembaca (siswa) memahami karakter, latar, dan bahasa, mereka bergerak dibalik informasi untuk membuat pernyataan tentang artinya.
4. Menerangkan (explaining). Meskipun siswa sudah membentuk konsep tentang perilaku karakter (tokoh), tetapi mereka masih harus menjelaskan sebaik mungkin alasan tokoh itu bertindak seperti itu.
5. Menghubungkan (connecting). Ketika siswa menghubungkan pengalaman mereka dengan isi teks sastra, pada saat itulah interaksi antara siswa dengan teks semakin jelas.
6. Menafsirkan (interpreting). Ketika pembaca (siswa) menafsirkan teks sastra, mereka menggunakan reaksi, deskripsi, konsepsi, dan koneksi yang mereka bentuk untuk mengartikulasikan tema atau butir dari episode yang spesifik atau dari keseluruhan teks.
7. Menilai (judging). Siswa diarahkan untuk bisa berbuat lebih banyak daripada hanya menyusun interpretasi. Di sini, siswa membuat penilaian tentang karakter dalam cerita atau kualitas sastra dari teks itu secara keseluruhan.
Teori respon pembaca ini tetap bukanlah satu-satunya teknik yang dapat digunakan guru dalam pembelajaran sastra. Bagi guru kreatif tentu ada beragam cara yang dapat ditempuh untuk menentukan pola pengajaran sastra agar tidak terpenjara dalam anggapan “guru sebagai biang keladi kegagalan pembelajaran sastra di sekolah”.

DAFTAR PUSTAKA
Dhari, Arif Fathurahman. “Toeri Resepsi Sastra dan Pendidikan”. dalam http://www.scribd.com. 29 Januari 2012
Nuryatin, Agus. “Pembelajaran Menulis Karya Sastra Cerita Pendek : Memeberi Bekal Life Skill Kepada Siswa”. dalam http://www.scribd.com. 29 Januari 2012
Widodo, Joko dan Ekarini Saraswati. 2009. “Pola Penerimaan Teks (Estetika Resepsi) Cerpen Indonesia Mutakhir Siswa dan Sistem Pembelajaran Apresiasi Cerpen di DMU Kota Malang”. Jurnal Bestari Universitas Muhamadiyah Malang. Vol.42
Yunus, Umar. 1985.Resepsi Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia

Posted on November 24, 2012, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: